Social Investment Indonesia dan Pertamina Rayakan SIRD Seri 100, Perkuat Ekosistem Pengetahuan Keberlanjutan
RILISINFO.COM, Jakarta, 13 Juli 2026 – Social Investment Indonesia (SII) bersama PT Pertamina (Persero) sukses menyelenggarakan Social Investment Roundtable Discussion (SIRD) Seri #100 di Graha Pertamina, Jakarta. Mengusung tema “100 Sesi, Ribuan Gagasan: Merayakan Pengetahuan, Keberlanjutan, dan Investasi Sosial”, forum ini menjadi tonggak penting perjalanan SIRD yang selama lebih dari 12 tahun secara konsisten menghadirkan ruang dialog, pembelajaran, dan kolaborasi bagi para praktisi, akademisi, pemerintah, dunia usaha, serta organisasi masyarakat sipil.
Perayaan SIRD Seri #100 tidak hanya menjadi momentum refleksi atas perjalanan panjang forum ini sejak pertama kali diselenggarakan pada 2014, tetapi juga menjadi penegasan bahwa pengetahuan merupakan fondasi utama dalam membangun praktik keberlanjutan dan investasi sosial yang semakin berdampak di Indonesia.
Acara dibuka dengan mengenang almarhumah Arnolia Febrianti (Pegi), sosok yang memiliki peran besar dalam membidani dan mengembangkan SIRD hingga mencapai sesi ke-98. Penghormatan tersebut menjadi pengingat bahwa keberlanjutan sebuah gerakan lahir dari dedikasi, kolaborasi, dan semangat berbagi pengetahuan.
Dalam sambutannya, Direktur Social Investment Indonesia, Pitono Nugroho, menyampaikan bahwa SIRD bukan sekadar forum diskusi, melainkan sebuah gerakan pengetahuan yang terus tumbuh bersama komunitas keberlanjutan Indonesia.
“Pengetahuan tanpa komunitas hanyalah informasi. Komunitas tanpa pengetahuan hanyalah kerumunan. Ketika keduanya bertemu, lahirlah sebuah gerakan.”
Pada momentum bersejarah ini, SII juga meluncurkan tiga Knowledge Legacy sebagai kontribusi bagi pengembangan praktik keberlanjutan nasional, yaitu:
Knowledge Pod, platform digital berbagi pengetahuan keberlanjutan;
Kompas Materialitas HIRO (Harm, Impact, Risk and Opportunity) sebagai kerangka analisis isu material yang lebih komprehensif;
Indeks Investasi Sosial Perusahaan, sebuah instrumen untuk mengukur kualitas investasi sosial perusahaan secara lebih sistematis dan akuntabel.
Ketiga produk pengetahuan tersebut diharapkan dapat menjadi referensi bagi perusahaan, regulator, akademisi, maupun praktisi dalam meningkatkan kualitas pengambilan keputusan di bidang keberlanjutan dan investasi sosial.
Sebagai keynote speaker, Arya Dwi Paramita, Corporate Secretary PT Pertamina (Persero), menegaskan bahwa pengetahuan merupakan fondasi utama transformasi keberlanjutan perusahaan.
Menurutnya, keberlanjutan bukan sekadar agenda ESG, tetapi menjadi syarat utama keberlangsungan perusahaan dalam menghadapi tantangan transisi energi, perubahan iklim, dan dinamika global. Pertamina sendiri terus memperkuat budaya pembelajaran melalui berbagai inisiatif, termasuk pengembangan Corporate Secretary Academy, guna memastikan keberlanjutan kompetensi dan kepemimpinan organisasi.
“Knowledge menjadi fondasi utama keberlanjutan. Inovasi tidak dapat tumbuh tanpa kolaborasi, dan kolaborasi hanya lahir melalui ruang-ruang belajar bersama seperti SIRD,” ujarnya.
Sesi utama berupa Special Talk Show menghadirkan empat narasumber lintas sektor, yaitu:
Rudi Arifianto, Vice President CSR & SMEPP PT Pertamina (Persero);
Prof. Dr. Juniati Gunawan, Universitas Trisakti;
Dr. Ivanovich Agusta, Kepala Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Perdesaan (PSP3) IPB University;
Jalal, Chairperson Advisory Board Social Investment Indonesia.
Diskusi dipandu oleh Fajar Kurniawan, Managing Partner Social Investment Indonesia.
Keempat narasumber membahas berbagai isu strategis, mulai dari kepemimpinan korporasi dalam transformasi keberlanjutan, pentingnya membangun warisan pengetahuan (knowledge legacy), penguatan investasi sosial berbasis dampak, hingga pengembangan pendekatan Return on Sustainability Investment (ROSI) sebagai instrumen untuk mengukur nilai ekonomi dan strategis dari investasi keberlanjutan.
Forum juga menegaskan bahwa keberhasilan keberlanjutan tidak hanya ditentukan oleh besarnya investasi sosial, tetapi oleh kemampuan organisasi membangun kolaborasi, mengelola pengetahuan, melakukan inovasi, serta mengintegrasikan aspek sosial, lingkungan, dan tata kelola ke dalam strategi bisnis.
Sejak pertama kali diselenggarakan pada tahun 2014, SIRD telah menghadirkan 100 sesi diskusi, melibatkan ratusan narasumber, serta diikuti oleh ribuan peserta dari berbagai sektor di Indonesia. Selama lebih dari satu dekade, SIRD berkembang menjadi ruang kolaborasi yang mempertemukan dunia usaha, akademisi, pemerintah, lembaga filantropi, organisasi masyarakat sipil, hingga komunitas internasional dalam membahas isu-isu strategis keberlanjutan.
Menutup rangkaian kegiatan, SII menegaskan bahwa SIRD Seri #100 bukanlah akhir dari perjalanan, melainkan awal dari babak baru pengembangan komunitas pengetahuan keberlanjutan di Indonesia.
Melalui semangat “100 Sesi, Ribuan Gagasan”, Social Investment Indonesia berkomitmen untuk terus memperluas ruang kolaborasi, memperkuat ekosistem pengetahuan, dan mendorong lahirnya praktik-praktik investasi sosial yang semakin berdampak bagi masyarakat, lingkungan, dan pembangunan berkelanjutan Indonesia.

