Prawirotaman Festival 2026 Jadi Magnet Wisatawan Mancanegara dan Penggerak Ekonomi Kreatif

RILISINFO.COM, YOGYAKARTA — Pemerintah Kota Yogyakarta terus memperkuat posisi Yogyakarta sebagai Kota Festival melalui penyelenggaraan berbagai kegiatan berbasis budaya, kreativitas, dan karakter kawasan. Salah satunya Festival Prawirotaman 2026 yang digelar di Jalan Prawirotaman, Kota Yogyakarta, pada (22/8/26 – 23/8/26).

Festival Prawirotaman 2026 menghadirkan beragam kegiatan, mulai dari bazar pernak-pernik, pakaian, kuliner hingga agenda utama Fashion on the Street. Tahun ini, Fashion on the Street mengangkat tema “Contemporary Art Batik Evolution – Milenial Batik Revolution”.

Asisten Perekonomian dan Pembangunan Kota Yogyakarta, Kadri Renggana, mengatakan Festival Prawirotaman tidak hanya menjadi ruang hiburan, tetapi juga menjadi sarana memperkenalkan batik dan budaya Yogyakarta melalui kemasan yang lebih segar serta dekat dengan generasi muda.

“Batik hadir dengan cara yang lebih segar. Anak-anak muda mendapatkan ruang untuk berkarya. Pelaku usaha dan UMKM ikut bergerak. Demikian pula wisatawan mendapatkan pengalaman yang khas ketika berada di Kota Yogyakarta,” ujar Kadri.

Menurutnya, Festival Prawirotaman merupakan bagian dari rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun ke-270 Kota Yogyakarta dengan tema “Autentik Konkret” yang berlangsung selama dua bulan dan akan mencapai puncaknya pada 7 Oktober 2026 melalui penyelenggaraan Wayang Jogja Night Carnival ke-10.

Kadri menegaskan, Festival Prawirotaman bukan sekadar kegiatan pertunjukan, melainkan event berbasis identitas kawasan yang merepresentasikan karakter Prawirotaman sekaligus memberikan manfaat bagi masyarakat dan ekosistem pariwisata.

“Warisan budaya kita sangat kaya. Tugas kita sekarang adalah membuat warisan itu terus produktif. Budaya harus bisa melahirkan kreativitas, membuka kesempatan kerja, menggerakkan UMKM, dan menghidupkan pariwisata sekaligus memberi ruang kepada generasi muda untuk tumbuh,” jelasnya.

Ia menilai Prawirotaman menjadi kawasan yang strategis untuk memperlihatkan kekuatan budaya dan kreativitas Yogyakarta karena setiap hari menjadi ruang pertemuan masyarakat dengan wisatawan dari berbagai daerah, termasuk wisatawan mancanegara.

“Ketika batik dan karya anak muda tampil di jalan-jalan Prawirotaman, sesungguhnya kita sedang memperkenalkan wajah Kota Yogyakarta langsung pada dunia,” katanya.

Kadri berharap Festival Prawirotaman dapat terus berkembang bersama masyarakat. Dengan demikian, keberadaan festival turut memberikan dampak terhadap hotel, restoran, UMKM, seniman, desainer hingga pelaku industri pariwisata.

Kepala Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta, Lucia Daning Krisnawati, mengatakan Festival Prawirotaman menjadi salah satu upaya Pemerintah Kota Yogyakarta untuk meningkatkan kunjungan wisatawan mancanegara.

Hal tersebut menjadi tantangan karena jumlah wisatawan nusantara yang berkunjung ke Kota Yogyakarta masih jauh lebih besar dibandingkan wisatawan mancanegara.

Berdasarkan data hingga (31/12/25), kunjungan wisatawan mancanegara ke Kota Yogyakarta mencapai sekitar 316 ribu orang. Sementara wisatawan nusantara tercatat sekitar 11 juta orang.

“Challenge dari Pak Wali Kota adalah bagaimana caranya untuk mendongkrak wisatawan mancanegara agar bisa hadir dan menjadikan Yogyakarta sebagai tujuan wisata luar negeri,” jelas Lucia.

Ia menambahkan, Festival Prawirotaman telah masuk dalam kalender event Kota Yogyakarta. Ke depan, penyelenggaraan festival diharapkan semakin diperkuat sehingga mampu menjadi daya tarik bagi wisatawan mancanegara dari tahun ke tahun.

Prawirotaman sendiri dikenal sebagai salah satu kawasan yang memiliki karakter internasional dan lekat dengan wisatawan mancanegara. Selain Prawirotaman, kawasan Sosromenduran dan Sosrowijayan juga dikenal sebagai kawasan yang banyak dikunjungi wisatawan asing.

Festival Prawirotaman diharapkan dapat menjadi salah satu atraksi yang memperkuat daya tarik Kota Yogyakarta, khususnya pada periode Juli dan Agustus yang menjadi salah satu masa tingginya kunjungan wisatawan mancanegara.

Sementara itu, Founder dan Inisiator Fashion on the Street Prawirotaman, Lia Mustofa, mengatakan Fashion on the Street tahun ini telah memasuki penyelenggaraan ke-11.

Menurutnya, kegiatan tersebut pada awalnya merupakan tugas akhir anak didiknya. Namun, konsep tersebut kemudian berkembang seiring dengan karakter Prawirotaman sebagai kampung wisatawan sekaligus kampung batik.

“Karena mungkin vibe-nya kampung wisatawan, kemudian punya cerita di balik itu tentang kampung batik. Itu yang membuat akhirnya ter-branding lebih baik,” ujarnya.

Pada penyelenggaraan tahun ini, Fashion on the Street tidak hanya digelar di Prawirotaman 1, tetapi juga diperluas ke Prawirotaman 2. Selain itu, pameran turut digelar di Java Villas Hotel.

Kegiatan tersebut juga melibatkan generasi muda sebagai desainer maupun model. Sejumlah wisatawan dan mahasiswa dari luar negeri, antara lain dari Belanda, Jepang, dan Korea, turut berpartisipasi.

“Kami memang mengkhususkan para desainer dan modelnya adalah generasi muda. Ingin ada keberlanjutan,” kata Lia.

Ia menjelaskan, pihaknya terus melakukan pendampingan terhadap desainer dan pembatik muda. Bersama Dekranas dan Bank Indonesia KPw DIY, program pendampingan tersebut kini memasuki angkatan ketiga dengan melibatkan sekitar 25 desainer dan pembatik muda.

“Harapannya Jogja Kota Batik Dunia. Salah satu unsur yang harus dipertanggungjawabkan agar penghargaan Kota Batik ini tetap terjaga adalah mampu meregenerasi generasi muda. Ini mungkin adalah sumbangsih kami untuk Kota Jogja,” jelasnya.

Pada Festival Prawirotaman 2026, sekitar 40 desainer terlibat dengan 12 brand yang ditampilkan. Sejumlah desainer dari luar daerah juga diundang, antara lain Tirsa dari Denpasar, Sanet dari Malang, dan Mega dari Surabaya.

Sementara itu, desainer muda Yogyakarta yang turut berkontribusi antara lain Rony Bilardo, Prita, Laili, Didi Warsito, dan Putri Ramadhani.

Lia menegaskan, perkembangan batik harus tetap menjaga akar tradisi meskipun saat ini kreativitas dan teknologi berkembang semakin cepat.

“Harapannya dari tradisi menjadi modern tetap terjaga. Meskipun milenial batik revolution berjalan cepat, kita tidak bisa menghindari teknologi. Ada percepatan dalam membuat desain, tetapi batiknya tetap terjaga secara tradisi,” imbuhnya.

Melalui Festival Prawirotaman 2026, Pemerintah Kota Yogyakarta mendorong kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, pelaku UMKM, seniman, desainer, komunitas, pelaku pariwisata dan generasi muda. Kolaborasi tersebut diharapkan mampu memperkuat identitas kawasan sekaligus menjadikan budaya sebagai penggerak ekonomi kreatif dan pariwisata Kota Yogyakarta. (Aga)