Guci Menangis Lumpur: Saat ‘Tambang Hijau’ di Lereng Slamet Menagih Janji Alam

RILISINFO.COM, Tegal – 21 Desember 2025. Sabtu kelabu itu seharusnya menjadi pesta liburan akhir tahun. Namun, di Pancuran 13 Guci, tawa riang wisatawan seketika senyap, berganti gemuruh mencekam dari arah hulu. Dalam hitungan menit, air bah berwarna cokelat pekat bukan hanya membawa air, tapi juga pesan kematian dari Gunung Slamet: alam sudah lelah.

‎Banjir bandang yang menerjang dan menimbun ikon wisata Tegal ini memicu pertanyaan liar di benak publik: Siapa yang merusak hulu? Adakah tambang raksasa yang beroperasi diam-diam?

‎Investigasi lapangan menyingkap fakta yang jauh lebih ironis. Tidak ada ekskavator tambang emas atau batubara di sana. Sang “pelaku” ternyata berwajah hijau, tenang, dan ironisnya, menghidupi ribuan dapur warga: Lautan ladang sayur.

‎Ilusi Hutan yang Hilang

‎Mata awam mungkin melihat lereng atas Guci masih hijau. Namun, itu adalah “hijau yang rapuh”. Hutan lindung dengan pohon-pohon berakar tunggang yang kokoh—sang paku bumi alami—telah lama terusir. Gantinya adalah hamparan monokultur kentang, wortel, dan kubis yang merambat hingga ketinggian ekstrem di atas 2.000 mdpl.

‎Ini adalah bentuk “Pertambangan Pertanian”. Tanah tidak dikeruk mineralnya, tapi diperas haranya hingga gembur.

‎Saat curah hujan ekstrem mengguyur sejak Sabtu siang, tanah gembur tanpa cengkeraman akar pohon keras itu menyerah. Ia tidak menyerap air, melainkan larut bersamanya. Tanah itu berubah menjadi adonan bubur lumpur raksasa, meluncur bebas ke bawah sebagai debris flow (aliran bahan rombakan).

‎Reuni Mematikan Dua Sungai

‎Petaka menjadi sempurna ketika dua nadi air utama, Sungai Gung dan Sungai Sawangan, meluap di waktu bersamaan. Pertemuan dua arus deras ini menciptakan efek akumulasi volume yang mengerikan.

‎Lembah Pancuran 13, yang secara topografi berbentuk seperti “leher botol”, dipaksa menelan debit air yang jauh di luar kapasitasnya. Hasilnya fatal. Jembatan beton patah seperti ranting kering. Pipa-pipa panas bumi—urat nadi energi kawasan itu—tercabik dan hanyut. Kolam-kolam pemandian yang legendaris itu kini hilang, terkubur di bawah ton material batu dan pasir.

‎Bukan Bencana Alam Biasa

‎Menyebut tragedi Guci 20 Desember 2025 semata-mata sebagai “bencana alam” adalah sebuah penyangkalan. Ini adalah bencana ekologis buatan manusia.
‎Kayu-kayu gelondongan sisa penebangan yang ikut hanyut dan menghantam infrastruktur wisata adalah “saksi bisu” bahwa aktivitas pembukaan lahan di hulu dilakukan secara ugal-ugalan. Hutan yang seharusnya menjadi spons penyerap air, kini telah berubah menjadi papan luncur bagi air bah.

‎Hari ini, Guci sedang dibersihkan dari lumpur. Namun, selama “tambang sayur” di lereng Slamet terus menggerogoti hutan lindung tanpa kendali, lumpur di Pancuran 13 hanyalah sebuah peringatan awal. Gunung Slamet tidak sedang marah, ia hanya sedang mengembalikan apa yang tidak sanggup lagi ia tahan.
‎(Ahmad Bahij Kurniawan)