Kuliner Tradisional Sekaten Tergerus Perubahan Zaman, Generasi Muda Jadi Tantangan

Senin, 31 Agustus 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

RILISINFO.COM, ‎JOGJA – Loyalitas konsumen kuliner Sekaten menghadapi tantangan serius ketika minat generasi muda terhadap tradisi mulai bergeser mengikuti perubahan zaman yang cepat.
‎
Sego gurih dan endhog abang yang dahulu lekat dengan perayaan Sekaten kini dinilai membutuhkan strategi baru agar tetap menarik bagi generasi muda.
‎
Hal tersebut disampaikan Dosen Program Studi Akuntansi Universitas Widya Mataram Yogyakarta, Nisfatul Izzah, dalam kajiannya mengenai akuntansi UMKM dan Akuntansi Budaya secara khusus.
‎
Menurut Izzah, Sekaten bukan sekadar perayaan tahunan, melainkan ruang pertemuan emosional antara konsumen dan pedagang tradisional yang berlangsung lintas generasi masyarakat secara nyata.
‎
“Bagi pelanggan lama, ada memori masa kecil yang tidak bisa dilewatkan begitu saja,” ujar Izzah kepada wartawan setempat.
‎
Menurutnya, pelanggan lama bahkan rutin datang setiap tahun untuk membeli kuliner dari pedagang yang sama sebagai bentuk kebiasaan sekaligus dukungan nyata terhadap mereka.
‎
“Menemui pedagang langganan dan melarisi dagangan mereka setahun sekali sudah menjadi kebiasaan,” katanya, menjelaskan kuatnya ikatan konsumen dengan pedagang tradisional Sekaten tersebut.
‎
Pola hubungan tersebut, lanjut Izzah, menciptakan loyalitas yang membuat pedagang tradisional memiliki pasar tersendiri ketika momentum Sekaten kembali berlangsung setiap tahun secara rutin.
‎
Namun, loyalitas itu menghadapi tantangan karena generasi muda, khususnya Generasi Z, dinilai belum mempunyai keterikatan kuat terhadap kuliner tradisional Sekaten tersebut.
‎
“Generasi Z kurang berminat karena makanan tradisional ini dianggap memiliki rasa yang asing bagi mereka,” jelas Izzah.
‎
Karena itu, diperlukan pemantik yang mampu membuat generasi muda penasaran, datang, mencoba, lalu mengenal kuliner Sekaten beserta nilai budaya di baliknya secara langsung.
‎
Dalam perspektif Akuntansi Budaya, Izzah menyebut loyalitas pelanggan sebagai aset tidak berwujud yang penting bagi keberlangsungan usaha tradisional masyarakat Yogyakarta secara berkelanjutan.
‎
“Namun, aset tersebut dapat mengalami penyusutan apabila tidak terjadi regenerasi konsumen,” katanya, menekankan pentingnya menjaga kesinambungan pasar antargenerasi secara berkelanjutan ke depan.
‎
Izzah mendorong pedagang melakukan inovasi penyajian dan promosi tanpa menghilangkan cita rasa, karakter asli, serta identitas kuliner Sekaten yang telah diwariskan turun-temurun.
‎
“Kualitas makanan harus tetap dijaga karena kepercayaan konsumen menjadi salah satu modal utama,” tegasnya, terutama bagi usaha musiman tersebut setiap tahunnya secara konsisten.
‎
Selain inovasi, pengenalan sejarah dan filosofi kuliner Sekaten perlu dikemas melalui komunikasi yang lebih relevan, kreatif, dan mudah diterima generasi muda sekarang.
‎
“Jika tidak ada jembatan budaya yang memantik rasa penasaran Generasi Z, kita berpotensi kehilangan aset ekonomi dan pariwisata berharga,” ujar Izzah dalam kajiannya.
‎
Ia menambahkan, pemerintah dan pihak terkait perlu memperkuat pengenalan kuliner tradisional melalui pendidikan serta muatan lokal yang mengenalkan nilai budaya Nusantara kepada pelajar.
‎
Sekaten memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW, sekaligus menjadi ruang ekonomi masyarakat melalui pedagang dan kuliner seperti sego gurih serta endhog abang setempat juga. (ady)

Berita Terkait

Dorong Sektor Ekonomi Kreatif dan Pariwisata, InJourney Hadirkan Paket Wedding Bersejarah Berbonus Liburan
Pertunjukan Spektakuler Baru di Jogja! ‘Bay Culture Show’ Jogja Bay Padukan Seni Tradisional & Atraksi Modern
Pasar Insinyur Kian Global, PII DIY Tekankan Kompetensi dan Integritas
Dorong Kemandirian Manufaktur Nasional, PII DIY Desak Percepatan Langkah Reindustrialisasi
UMY Siapkan SMP MSUS Berstandar Cambridge, Targetkan 90 Murid Baru
UMY Siapkan SMP MSUS, Padukan Sains dan Nilai Islam, Target Beroperasi 2027
Atasi Krisis Air di Gedangsari, Jamaah Karomah Istiqomah Guyur Padukuhan Sambeng dengan 20 Tangki Air Bersih!
Dorong Kemandirian Ekonomi Daerah, RAPIMDA KADIN DIY Akserelasi Digitalisasi dan Sertifikasi Tenaga Kerja

Berita Terkait

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 21:54 WIB

Dorong Sektor Ekonomi Kreatif dan Pariwisata, InJourney Hadirkan Paket Wedding Bersejarah Berbonus Liburan

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 21:03 WIB

Pertunjukan Spektakuler Baru di Jogja! ‘Bay Culture Show’ Jogja Bay Padukan Seni Tradisional & Atraksi Modern

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 13:25 WIB

Pasar Insinyur Kian Global, PII DIY Tekankan Kompetensi dan Integritas

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 13:19 WIB

Dorong Kemandirian Manufaktur Nasional, PII DIY Desak Percepatan Langkah Reindustrialisasi

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 13:09 WIB

UMY Siapkan SMP MSUS Berstandar Cambridge, Targetkan 90 Murid Baru

Berita Terbaru