Kuliner Tradisional Sekaten Tergerus Perubahan Zaman, Generasi Muda Jadi Tantangan
RILISINFO.COM, JOGJA – Loyalitas konsumen kuliner Sekaten menghadapi tantangan serius ketika minat generasi muda terhadap tradisi mulai bergeser mengikuti perubahan zaman yang cepat.
Sego gurih dan endhog abang yang dahulu lekat dengan perayaan Sekaten kini dinilai membutuhkan strategi baru agar tetap menarik bagi generasi muda.
Hal tersebut disampaikan Dosen Program Studi Akuntansi Universitas Widya Mataram Yogyakarta, Nisfatul Izzah, dalam kajiannya mengenai akuntansi UMKM dan Akuntansi Budaya secara khusus.
Menurut Izzah, Sekaten bukan sekadar perayaan tahunan, melainkan ruang pertemuan emosional antara konsumen dan pedagang tradisional yang berlangsung lintas generasi masyarakat secara nyata.
“Bagi pelanggan lama, ada memori masa kecil yang tidak bisa dilewatkan begitu saja,” ujar Izzah kepada wartawan setempat.
Menurutnya, pelanggan lama bahkan rutin datang setiap tahun untuk membeli kuliner dari pedagang yang sama sebagai bentuk kebiasaan sekaligus dukungan nyata terhadap mereka.
“Menemui pedagang langganan dan melarisi dagangan mereka setahun sekali sudah menjadi kebiasaan,” katanya, menjelaskan kuatnya ikatan konsumen dengan pedagang tradisional Sekaten tersebut.
Pola hubungan tersebut, lanjut Izzah, menciptakan loyalitas yang membuat pedagang tradisional memiliki pasar tersendiri ketika momentum Sekaten kembali berlangsung setiap tahun secara rutin.
Namun, loyalitas itu menghadapi tantangan karena generasi muda, khususnya Generasi Z, dinilai belum mempunyai keterikatan kuat terhadap kuliner tradisional Sekaten tersebut.
“Generasi Z kurang berminat karena makanan tradisional ini dianggap memiliki rasa yang asing bagi mereka,” jelas Izzah.
Karena itu, diperlukan pemantik yang mampu membuat generasi muda penasaran, datang, mencoba, lalu mengenal kuliner Sekaten beserta nilai budaya di baliknya secara langsung.
Dalam perspektif Akuntansi Budaya, Izzah menyebut loyalitas pelanggan sebagai aset tidak berwujud yang penting bagi keberlangsungan usaha tradisional masyarakat Yogyakarta secara berkelanjutan.
“Namun, aset tersebut dapat mengalami penyusutan apabila tidak terjadi regenerasi konsumen,” katanya, menekankan pentingnya menjaga kesinambungan pasar antargenerasi secara berkelanjutan ke depan.
Izzah mendorong pedagang melakukan inovasi penyajian dan promosi tanpa menghilangkan cita rasa, karakter asli, serta identitas kuliner Sekaten yang telah diwariskan turun-temurun.
“Kualitas makanan harus tetap dijaga karena kepercayaan konsumen menjadi salah satu modal utama,” tegasnya, terutama bagi usaha musiman tersebut setiap tahunnya secara konsisten.
Selain inovasi, pengenalan sejarah dan filosofi kuliner Sekaten perlu dikemas melalui komunikasi yang lebih relevan, kreatif, dan mudah diterima generasi muda sekarang.
“Jika tidak ada jembatan budaya yang memantik rasa penasaran Generasi Z, kita berpotensi kehilangan aset ekonomi dan pariwisata berharga,” ujar Izzah dalam kajiannya.
Ia menambahkan, pemerintah dan pihak terkait perlu memperkuat pengenalan kuliner tradisional melalui pendidikan serta muatan lokal yang mengenalkan nilai budaya Nusantara kepada pelajar.
Sekaten memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW, sekaligus menjadi ruang ekonomi masyarakat melalui pedagang dan kuliner seperti sego gurih serta endhog abang setempat juga. (ady)

