Susanto; Babad Kemantren Umbulharjo, Pendidikan Jadi Penjaga Peradaban

RILISINFO.COM, JOGJA – Ketua Komisi A DPRD Kota Yogyakarta Susanto Dwi Antoro menghadiri kegiatan Babad Siti Kemantren Umbulharjo, Senin (31/8/2026).

‎Kegiatan tersebut mengangkat tema “Menyemai Peradaban melalui Pendidikan dan Cagar Budaya” di Sekolah Sang Timur.

‎Susanto mengatakan, perjalanan menuju lokasi menjadi pengalaman bermakna sebelum mengikuti kegiatan yang mengangkat sejarah dan kebudayaan tersebut.

‎“Pagi itu, saya melaju dengan Vespa merah menuju Sekolah Sang Timur,” ujar Susanto.

‎Ia mengaku merasakan antusias sekaligus suasana khidmat karena kehadirannya bukan sekadar menghadiri acara, tetapi ikut merawat ingatan.

‎“Tujuan saya bukan sekadar menghadiri sebuah acara, melainkan menjadi bagian dari upaya merawat ingatan dan peradaban,” katanya.

‎Menurut Susanto, pendidikan tidak semata berlangsung di ruang kelas, tetapi juga tumbuh dari lingkungan, sejarah, serta warisan budaya masyarakat.

‎“Pendidikan tidak hanya berlangsung di ruang kelas, tetapi juga tumbuh dari tanah tempat kita berpijak,” jelasnya.

‎Ia menilai sejarah yang diwariskan menjadi bagian penting dalam membentuk pemahaman generasi terhadap identitas dan perjalanan daerah.

‎“Cagar budaya menjadi saksi perjalanan masyarakat,” ungkap Susanto saat menjelaskan pentingnya menjaga warisan sejarah.

‎Susanto menyebut perjalanan menggunakan Vespa merah menjadi pengantar menuju perjumpaan antara masa lalu, masa kini, dan masa depan.

‎“Dari perjalanan sederhana menuju sekolah, saya diajak kembali menyadari bahwa sebuah peradaban dibangun dari kesediaan untuk belajar,” tuturnya.

‎Ia menambahkan, mengenang sejarah bukan berarti terjebak pada masa lalu, melainkan menjadikannya pijakan menghadapi tantangan masa depan.

‎“Babad Siti Kemantren Umbulharjo bukan sekadar cerita tentang masa lalu,” tegas Susanto dalam keterangannya.

‎Menurutnya, Babad Siti Kemantren mengajak masyarakat membaca kembali jejak perjalanan serta memahami nilai-nilai yang terkandung didalamnya.

‎“Merawat sejarah adalah merawat jati diri,” kata Susanto, menegaskan pentingnya pendidikan berbasis kebudayaan.

‎Ia berharap Sekolah Sang Timur dapat menjadi ruang bertemunya pendidikan dan kebudayaan untuk membentuk generasi yang mengenal akar sejarah.

‎“Pendidikan dan kebudayaan bertemu dalam satu semangat: menyemai generasi yang tidak hanya cerdas,” ujarnya.

‎Susanto berharap generasi muda mampu menghargai masa lalu, hadir sepenuh hati pada masa kini, serta menyiapkan masa depan dengan kebijaksanaan. (ADY)