Panitia Tak Kenali Danrem, Persoalan di Jogja Marathon Diselesaikan dengan Baik
RILISINFO.COM, Jogja – Insiden cekcok yang terjadi di lintasan Mandiri Jogja Marathon 2026 di kawasan Candi Prambanan, Sleman, akhirnya berakhir damai.
Mediasi telah dilakukan dan kedua belah pihak sepakat saling memaafkan setelah terungkap bahwa kesalahpahaman dipicu karena petugas marshal tidak mengenali Danrem 072/Pamungkas Brigjen TNI Yuniar Dwi Hantono beserta ajudannya saat bertugas di lokasi.
Dalam video dokumentasi mediasi yang beredar, dijelaskan bahwa Brigjen Yuniar dan ajudannya mengenakan jersey lari resmi dari Bank Mandiri layaknya peserta lain.
Sebelum insiden terjadi, keduanya berlari lebih dahulu untuk mengambil dokumentasi kegiatan. Namun, karena ajudan tidak mengenakan atribut dinas dan petugas marshal juga tidak memakai ID card resmi, ajudan justru dihentikan dan ditarik keluar lintasan oleh petugas.
Situasi sempat memanas sebelum akhirnya Brigjen Yuniar memberikan penjelasan kepada marshal bahwa dirinya merupakan tamu undangan resmi dari pihak Mandiri.
Ia juga menjelaskan bahwa pria yang dihentikan petugas merupakan ajudannya yang sedang menjalankan tugas pengamanan.
Setelah penjelasan tersebut diterima, suasana berangsur kondusif dan kedua pihak sepakat menyelesaikan persoalan secara kekeluargaan.
Dalam mediasi tersebut, Brigjen Yuniar menyampaikan permohonan maaf atas insiden yang terjadi.
“Saya menyadari bahwa tindakan tersebut merupakan kesalahan dan tidak sesuai dengan aturan yang berlaku. Dengan tulus saya memohon maaf kepada penyelenggara, seluruh petugas dan relawan serta para peserta yang terdampak oleh kejadian ini,” ujar Brigjen Yuniar dalam video mediasi.
Pihak penyelenggara Mandiri bersama petugas marshal juga menyampaikan permohonan maaf kepada Danrem 072/Pamungkas setelah mengetahui duduk persoalan yang sebenarnya.
Mereka mengakui insiden tersebut murni terjadi akibat miskomunikasi dan kurangnya identifikasi di lapangan saat pelaksanaan lomba berlangsung.
Salah seorang petugas marshal dalam video itu juga mengakui tindakannya berlebihan.
“Saya juga memohon maaf atas tindakan saya yang berlebihan dan saya juga menganggap masalah ini telah selesai,” ucapnya.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa kedua belah pihak telah menyelesaikan persoalan tanpa menyisakan konflik.
Peristiwa ini menjadi pelajaran penting bagi seluruh pihak agar sistem identifikasi petugas maupun tamu undangan dalam event berskala besar semakin diperkuat.
Penggunaan tanda pengenal resmi, koordinasi yang lebih baik, serta komunikasi yang efektif di lapangan dinilai penting untuk mencegah kesalahpahaman serupa pada penyelenggaraan ajang olahraga berikutnya.(WAW)

