Dakwah Santun Jadi Penekanan Fikih Nahy Munkar, Umat Diingatkan Tak Bertindak Berlebihan
RILISINFO.COM, Jogja – Konsep amar ma’ruf nahi munkar kembali menjadi sorotan setelah dipaparkan dalam materi “Fikih Nahy Munkar” pada kuliah Subuh di Masjid Gedhe Kauman, Sabtu (20/6/2026).
Materi tersebut menegaskan bahwa mencegah kemungkaran merupakan bagian penting dari ajaran Islam, tetapi pelaksanaannya harus mengikuti aturan syariat, bukan dilakukan secara serampangan.
Dalam penjelasannya disebutkan, amar ma’ruf nahi munkar memiliki kedudukan sebagai fardhu kifayah bagi masyarakat dan dapat menjadi fardhu ‘ain bagi individu dalam kondisi tertentu.
“Ma’ruf adalah setiap ucapan, perbuatan, atau perasaan yang baik menurut syariat. Sedangkan munkar adalah semua ucapan, perbuatan, dan perasaan yang buruk menurut syariat,” jelasnya.
Ia juga menegaskan bahwa kewajiban tersebut berlaku bagi siapa pun, baik pemimpin, pejabat, ulama, masyarakat awam, maupun orang yang masih memiliki kekurangan.
Namun, pelaksanaannya harus memenuhi sejumlah syarat, seperti mengetahui ilmunya, menyaksikan kemungkaran secara langsung, tidak menimbulkan bahaya yang lebih besar, serta memiliki harapan bahwa nasihat yang diberikan dapat membawa perubahan.
Menurut materi tersebut, tahapan nahi munkar harus dilakukan secara bertingkat.
“Paling tinggi nahy munkar dilakukan dengan tangan. Kemudian jika tidak mampu, maka dengan lisan. Yang paling lemah ialah nahy munkar dengan hati,” demikian bunyi penjelasannya.
Materi itu juga mengingatkan bahwa penggunaan kekerasan, termasuk dengan senjata atau tongkat, tidak dibenarkan kecuali atas izin penguasa yang berwenang.
Nur Fajri Romadhon turut menekankan pentingnya akhlak dalam berdakwah. Pelaku amar ma’ruf nahi munkar dianjurkan bersikap rendah hati, lembut, penuh kasih sayang, tegas, ikhlas, memahami syariat, serta menyelaraskan ucapan dengan perbuatan.
“Disunnahkan berakhlak mulia saat melakukan nahy munkar, cek dan ricek, serta tidak tergesa nahy munkar terhadap kesalahan sekali-dua kali,” tulisnya.
Selain itu, materi tersebut mengingatkan agar tidak mengumbar aib seseorang. Pelaku dosa yang melakukannya secara sembunyi-sembunyi justru wajib dinasihati secara personal.
“Haram membongkar dan memviralkan kemungkaran yang dilakukan sembunyi-sembunyi,” demikian penegasan dalam materi tersebut.
Pesan ini menjadi pengingat bahwa amar ma’ruf nahi munkar bertujuan memperbaiki, bukan mempermalukan atau menghakimi orang lain.(WAW)

