Janma Limpad Seprapat Tamat, Pesan Kepemimpinan HB IX untuk Generasi Muda

RILISINFO.COM, JOGJA – Filosofi Jawa Janma Limpad Seprapat Tamat kembali disorot sebagai warisan kepemimpinan Sri Sultan Hamengku Buwono IX yang semakin relevan di zaman modern kini.

Ungkapan tersebut menggambarkan pemimpin yang mampu menangkap persoalan secara cepat, kemudian memahami arah, maksud, dan tujuan sebelum mengambil tindakan secara tepat dan bijak.

Ketajaman itu bukan muncul karena merasa paling tahu, melainkan lahir dari kejernihan berpikir, kepekaan batin, dan pengalaman membaca situasi secara mendalam sebelum bertindak.

Nilai tersebut melekat kuat pada sosok Bapak Pramuka Indonesia, Sri Sultan Hamengku Buwono IX, yang dikenal berwawasan jauh dan penuh keteladanan hingga kini.

Hal itu kembali disampaikan Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X saat peluncuran buku Tahta, Darma, dan Karsa di Jakarta yang penuh makna.
‎Peluncuran buku berlangsung di

Perpustakaan Nasional RI pada Kamis (13/8/2026), menghadirkan pembahasan tentang pemikiran, karya, serta keteladanan HB IX sepanjang sejarah kepemimpinan bangsa.

Sri Sultan HB X menegaskan, “Keteladanan yang tidak diteruskan hanya akan menjadi kenangan, sedangkan keteladanan yang dihayati akan menjadi peradaban.”

Pernyataan mempertegas pesan.
‎Buku karya Harto Juwono dan Anis Ilahi Wahdati itu tidak sekadar menyajikan biografi, tetapi merekam perjalanan pemikiran HB IX secara mendalam dan utuh.

Pembahasan buku mencakup periode 1941 hingga 1961, sekaligus memperlihatkan perjuangan dan gagasan kepemimpinan yang tetap penting dipelajari generasi muda hingga kini generasi sekarang.

Warisan tersebut dinilai dapat menjadi “kurikulum moral” agar generasi muda memiliki jangkar nilai ketika menghadapi perubahan zaman yang cepat dan penuh tantangan kompleks.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti turut menekankan pentingnya menghidupkan kembali nilai Dasa Darma Pramuka berbasis Pancasila untuk generasi muda hari ini.

Menurut Abdul Mu’ti, Pramuka harus menjadi ruang pembentukan karakter, bukan sekadar aktivitas baris-berbaris, tepuk tangan, atau kegiatan seremonial belaka bagi peserta didik.

Nilai kepanduan mencakup pengabdian tanpa pamrih, kehati-hatian, kedisiplinan, tanggung jawab, serta kemampuan berpikir tajam menghadapi berbagai persoalan kehidupan secara bijak dan bertanggung jawab.

Karena itu, Janma Limpad Seprapat Tamat menjadi pengingat bahwa pemimpin perlu memahami persoalan secara utuh sebelum mengambil keputusan yang berdampak luas bagi masyarakat.

Di tengah derasnya arus digital, kemampuan berpikir jernih menjadi semakin penting agar keputusan tidak sekadar mengikuti informasi yang beredar tanpa pertimbangan matang bijaksana.

Keteladanan HB IX menunjukkan bahwa kepemimpinan membutuhkan keberanian, ketenangan, kecermatan, serta orientasi pengabdian yang melampaui kepentingan pribadi dan kekuasaan semata bagi generasi mendatang. (waw)