Semarak Zhong Qiu Jie 2026, Yogyakarta Padukan Budaya Tionghoa dan Jawa

Sabtu, 26 September 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

RILSIINFO.COM, Yogyakarta — Perayaan Zhong Qiu Jie atau Festival Kue Bulan 2026 di Kota Yogyakarta berlangsung meriah di Klenteng Poncowinatan, Jumat (25/9/2026). Perayaan tersebut tidak hanya menjadi momentum bagi umat Tionghoa untuk berkumpul bersama keluarga, tetapi juga menjadi ruang untuk memperkenalkan kekayaan budaya melalui akulturasi budaya Tionghoa dan Jawa.

Ketua Panitia Perayaan Zhong Qiu Jie 2026, Sugiarto, mengatakan konsep acara tahun ini mengedepankan akulturasi budaya. Berbagai unsur tradisi Tionghoa dihadirkan dan dipadukan dengan kebudayaan lokal, khususnya budaya Jawa.

“Budaya-budaya dari Tionghoa kita adopsi, disesuaikan dengan kebudayaan kita. Jadi tidak murni 100 persen dari kebudayaan Tionghoa, tetapi kita adopsi dan kita campur dengan budaya Jawa,” ujar Sugiarto saat ditemui wartawan sebelum acara di Klenteng Poncowinatan, Jumat (25/9/2026).

Menurut Sugiarto, Zhong Qiu Jie memiliki makna penting mengenai keluarga. Momentum Festival Kue Bulan menjadi kesempatan untuk kembali mempererat hubungan keluarga sekaligus memperkuat kebersamaan masyarakat.

Ia berharap perayaan tersebut dapat memberikan manfaat tidak hanya bagi umat Tionghoa, tetapi juga masyarakat secara luas.

“Semoga acara ini menjadi berkat untuk umat kita bersama secara umum dan warga-warga Tionghoa yang berada di Indonesia. Marilah kita bersatu untuk membangun bersama-sama, memajukan Indonesia supaya lebih makmur dan aman,” katanya.

Perayaan Zhong Qiu Jie tahun ini juga mendapat perhatian dari Pemerintah Kota Yogyakarta. Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo menyampaikan bahwa keberadaan berbagai perayaan budaya di Kota Yogyakarta turut memperkaya khazanah budaya dan kehidupan masyarakat.

Hasto mengatakan Pemkot Yogyakarta mendukung perayaan hari besar budaya maupun keagamaan yang diselenggarakan masyarakat, termasuk perayaan Zhong Qiu Jie.

“Sejalan dengan perayaan Zhong Qiu pada malam hari ini kiranya akan memperkaya khazanah peringatan hari-hari besar budaya serta keagamaan di Kota Yogyakarta,” ujar Hasto dalam sambutannya.

Menurut Hasto, kegiatan budaya seperti Perayaan Zhong Qiu Jie juga berpotensi menjadi daya tarik wisata karena menghadirkan pengalaman budaya yang dapat dinikmati masyarakat luas maupun wisatawan yang datang ke Yogyakarta.

“Pemerintah Kota Yogyakarta mendukung perayaan-perayaan dari warga Tionghoa. Apa pun hari-hari besar yang ada di Kota Yogyakarta ini, kami mendukung sepenuhnya,” katanya.

Dalam kesempatan tersebut, Hasto juga mengajak masyarakat untuk terus menjaga toleransi, solidaritas, serta kesetiakawanan sosial.

Ia mengaitkan semangat perayaan dengan pentingnya berbagi kepada masyarakat yang masih menghadapi kesulitan kehidupan. Hasto mencontohkan program bedah rumah berbasis gotong royong yang menurutnya telah membantu memperbaiki rumah warga tanpa menggunakan APBD maupun APBN.

“Kalau kita mendapatkan rezeki yang melimpah dari Tuhan Yang Maha Kuasa, maka sempatkanlah untuk berbagi juga kepada mereka yang masih hidupnya sulit,” ujar Hasto.

Selain berbicara mengenai solidaritas sosial, Hasto turut menyampaikan sejumlah program lingkungan di Kota Yogyakarta, termasuk pengelolaan sampah dan upaya membersihkan sungai.

Perayaan Zhong Qiu Jie pun menjadi semakin semarak dengan rangkaian pertunjukan budaya yang menjadi bagian penting dalam acara. Unsur seni tradisional Tionghoa hadir berdampingan dengan nuansa budaya lokal, menciptakan pertunjukan yang menjadi gambaran keberagaman budaya di Yogyakarta.

Sementara itu, salah satu peserta dan pemerhati acara, Arnold Sugiarto, memberikan apresiasi terhadap penyelenggaraan Festival Kue Bulan tahun ini.

Menurut Arnold, rangkaian pertunjukan yang ditampilkan menarik dan mampu memberikan warna tersendiri dalam perayaan.

“Tanggapan saya terkait acara Festival Kue Bulan ini sangat menarik, sangat bagus sekali. Tarian-tariannya sangat bagus sekali,” ujar Arnold setelah acara.

Ia berharap penyelenggaraan tahun depan dapat menghadirkan pertunjukan yang semakin beragam, terutama atraksi barongsai dan naga barongsai.

“Harapannya untuk tahun depan makin ditingkatkan lagi pertunjukan barongsai maupun naga barongsai di awal acara, sehingga dapat menarik pengunjung yang lebih banyak lagi,” katanya.

Perayaan Zhong Qiu Jie 2026 di Klenteng Poncowinatan pada akhirnya tidak sekadar menjadi perayaan budaya bagi umat Tionghoa. Acara tersebut menjadi ruang perjumpaan berbagai unsur masyarakat, sekaligus menunjukkan bagaimana tradisi Tionghoa dapat hidup berdampingan dan berakulturasi dengan budaya Jawa dalam kehidupan masyarakat Yogyakarta.

Semangat kebersamaan, keluarga, toleransi, dan gotong royong menjadi pesan yang mengiringi perayaan Festival Kue Bulan tahun ini. (Aga)

Berita Terkait

GKR Mangkubumi Tekankan Penguatan UMKM untuk Ekonomi DIY Berkualitas
5.567 Siswa Terdampak, Kasus Keracunan MBG di DIY Jadi Sorotan
Kecelakaan Tiga Mobil Terjadi di Jalan Wates, Polsek Wirobrajan Turun Tangan
Lewat 670 Penari, Kudus Lawan Lupa terhadap Warisan Budaya Leluhur
Bupati Sleman Apresiasi Dedikasi Adhitya Selama Bertugas
Panen Padi Galon, GKR Hemas Dorong Ketahanan Pangan Warga Yogyakarta
Dugaan Pungli Alkid Masih Bergulir, Polisi Belum Tetapkan Tersangka
Koramil Kaliwiro Padamkan Bara Tersembunyi Cegah Karhutla Kembali Membara

Berita Terkait

Sabtu, 26 September 2026 - 14:21 WIB

GKR Mangkubumi Tekankan Penguatan UMKM untuk Ekonomi DIY Berkualitas

Sabtu, 26 September 2026 - 14:17 WIB

5.567 Siswa Terdampak, Kasus Keracunan MBG di DIY Jadi Sorotan

Sabtu, 26 September 2026 - 14:12 WIB

Semarak Zhong Qiu Jie 2026, Yogyakarta Padukan Budaya Tionghoa dan Jawa

Sabtu, 26 September 2026 - 14:08 WIB

Kecelakaan Tiga Mobil Terjadi di Jalan Wates, Polsek Wirobrajan Turun Tangan

Sabtu, 26 September 2026 - 14:04 WIB

Lewat 670 Penari, Kudus Lawan Lupa terhadap Warisan Budaya Leluhur

Berita Terbaru